![]() |
| Territory Channel Manager Kaspersky Indonesia, Dony Koesmandarin (Foto: Andina Librianty / Liputan6.com) |
Keberadaan
teknologi di era modern ini telah memudahkan kita untuk berkomunikasi satu sama
lain. Tak hanya itu, majunya teknologi juga memberikan kebebasan untuk
mengakses berbagai macam informasi yang tak tersedia di masa lampau.
Begitu juga dengan perusahaan, banyak perusahaan saat menggunakan
teknologi sebagai media usaha mereka.
Namun
tidak dipungkiri, dibalik segudang manfaat yang diberikan. Ada sisi negatif
atau buruk dari semua itu. Contohnya saja kejahatan cyber yang marak menterang
perusahan-perusahan yang bergerak dibidang teknoogi.
Seperti dikutip dari liputan6.com, Perusahaan
yang menjadi target serangan Distributed Denial of Service (DDoS) tidak
hanya rugi secara finansial. Bentuk kerugian lain adalah citra perusahaan
menjadi tercemar.
Seperti dijelaskan oleh Territory Channel Manager Kasperky Indonesia, Dony Koesmandarin, "Suatu institut pasti akan terpengaruh dari sisi trust, integritasnya. Apalagi jika yang menjadi korban itu dari industri finansial," tutur Dony saat ditemui di kawasan Jakarta, Rabu (27/7/2016).
Karena itu, perusahaan dan brand disarankan mengadopsi strategi proaktif dan
bukan reaktif, jika tidak ingin terus menjadi korban serangan DDos. Pasalnya,
selama ini serangan DDos lebih sering menyasar segmen B2B.
Dalam sebuah survei bertajuk Global Corporate IT
Security Risks 2015 yang dilakukan oleh B2B International dengan Kaspersky Lab,
satu serangan DDoS pada sumber daya daring (online resource) perusahaan dapat
menyebabkan kerugian finansial mulai dari US$ 53 ribu hingga US$ 417 ribu,
tergantung pada ukuran perusahaan. Ada bermacam konsekuensi yang harus ditanggung,
mulai dari kehilangan akses ke informasi penting hingga peluang bisnis.
Kaspersky memiliki sejumlah cara supaya
perusahaan bisa melawan serangan DDos. Misalnya, perusahaan harus membuat
metode untuk mendeteksi serangan cyber, kemudian harus memerhatikan performa server untuk memantau jika ada
kejanggalan.
"Intinya perusahaan harus bisa memfilter
paket-paket atau traffic yang masuk. Karena pada umumnya, serangan
DDoS mengirimkan traffic tinggi kepada website yang menjadi target, sehingga server tidak bisa diakses," ujar Dony menjelaskan.
Namun menangkap pelaku serangan cyber DDoS
bukanlah perkara mudah. Pasalnya, mereka sering menggunakan banyak layer dan tidak melakukan serangan
secara langsung dari komputernya.
"Jadi pelaku ini sering menggunakan 'zombie
PC' yang sebelumnya telah mereka susupi dengan malware atau botnet. Nah 'zombie PC' inilah yang
menjadi layer mereka, sehingga sulit diketahui pelaku
serangan sebenarnya," ujar Dony.
Karena itu, Dony menyarankan masyarakat lebih
berhati-hati menggunakan komputer dan mengakses berbagai website. "Jangan terkecoh dengan
berbagai bujukan untuk mengunjungi website yang tidak familiar, karena bisa saja begitu
kita akses, komputer kita akan langsung disusupi malware," pungkas Dony.
Sumber : liputan6.com
