Kamis, 28 Juli 2016

Serangan DDoS! Bukan Hanya Merugikan Secara Finanial Citra Perusahaan

Territory Channel Manager Kaspersky Indonesia, Dony Koesmandarin (Foto: Andina Librianty / Liputan6.com)

Keberadaan teknologi di era modern ini telah memudahkan kita untuk berkomunikasi satu sama lain. Tak hanya itu, majunya teknologi juga memberikan kebebasan untuk mengakses berbagai macam informasi yang tak tersedia di masa lampau.  Begitu juga dengan perusahaan, banyak perusahaan saat menggunakan teknologi sebagai media usaha mereka.


Namun tidak dipungkiri, dibalik segudang manfaat yang diberikan. Ada sisi negatif atau buruk dari semua itu. Contohnya saja kejahatan cyber yang marak menterang perusahan-perusahan yang bergerak dibidang teknoogi.

Seperti dikutip dari liputan6.com, Perusahaan yang menjadi target serangan Distributed Denial of Service (DDoS) tidak hanya rugi secara finansial. Bentuk kerugian lain adalah citra perusahaan menjadi tercemar.

Seperti dijelaskan oleh Territory Channel Manager Kasperky Indonesia, Dony Koesmandarin, "Suatu institut pasti akan terpengaruh dari sisi trust, integritasnya. Apalagi jika yang menjadi korban itu dari industri finansial," tutur Dony saat ditemui di kawasan Jakarta, Rabu (27/7/2016).

Karena itu, perusahaan dan brand disarankan mengadopsi strategi proaktif dan bukan reaktif, jika tidak ingin terus menjadi korban serangan DDos. Pasalnya, selama ini serangan DDos lebih sering menyasar segmen B2B.


Dalam sebuah survei bertajuk Global Corporate IT Security Risks 2015 yang dilakukan oleh B2B International dengan Kaspersky Lab, satu serangan DDoS pada sumber daya daring (online resource) perusahaan dapat menyebabkan kerugian finansial mulai dari US$ 53 ribu hingga US$ 417 ribu, tergantung pada ukuran perusahaan. Ada bermacam konsekuensi yang harus ditanggung, mulai dari kehilangan akses ke informasi penting hingga peluang bisnis.



Kaspersky memiliki sejumlah cara supaya perusahaan bisa melawan serangan DDos. Misalnya, perusahaan harus membuat metode untuk mendeteksi serangan cyber, kemudian harus memerhatikan performa server untuk memantau jika ada kejanggalan.



"Intinya perusahaan harus bisa memfilter paket-paket atau traffic yang masuk. Karena pada umumnya, serangan DDoS mengirimkan traffic tinggi kepada website yang menjadi target, sehingga server tidak bisa diakses," ujar Dony menjelaskan.



Namun menangkap pelaku serangan cyber DDoS bukanlah perkara mudah. Pasalnya, mereka sering menggunakan banyak layer dan tidak melakukan serangan secara langsung dari komputernya.



"Jadi pelaku ini sering menggunakan 'zombie PC' yang sebelumnya telah mereka susupi dengan malware atau botnet. Nah 'zombie PC' inilah yang menjadi layer mereka, sehingga sulit diketahui pelaku serangan sebenarnya," ujar Dony.



Karena itu, Dony menyarankan masyarakat lebih berhati-hati menggunakan komputer dan mengakses berbagai website. "Jangan terkecoh dengan berbagai bujukan untuk mengunjungi website yang tidak familiar, karena bisa saja begitu kita akses, komputer kita akan langsung disusupi malware," pungkas Dony.



Sumber : liputan6.com