Rabu, 31 Agustus 2016

Rencana Zuckerberg Kembangkan Asisten Digital Ternyata Benar

Senyum pendiri sekaligus CEO Facebook, Mark Zuckerberg saat akan memberikan sambutan pada ajang Mobile World Congress di Barcelona, Spanyol, Senin (22/2). (REUTERS/Albert Gea)


Liputan6.com, Roma - Awal tahun ini CEO Facebook Mark Zuckeberg sempat akan mempersiapkan sebuah kecerdasan buatan sederhana. Bahkan, suami dari Priscilla Chan ini ingin membuat kecerdasan buatan tersebut seperti Jarvis, asisten digital Tony Stark dalam film Iron Man.

Meskipun terdengar sulit, ternyata Zuckeberg tak main-main dengan rencananya itu. Dalam sebuah kesempatan di Roma baru-baru ini, ia mengungkapkan proyek tersebut memang tengah dikembangkan. Bila tak ada halangan, ia bermaksud mendemonstrasikan rancangannya tersebut bulan depan.

"Saya berharap bisa memiliki demo (kecerdasan buatan) itu, harapannya bulan depan bisa," ujarnya saat sesi tanya jawab di Italia seperti dikutip dari laman The Verge, Rabu (31/8/2016). 



Pria yang baru saja menjadi ayah ini juga menyebut ia tak sendirian dalam mengembangkan kecerdasan buatan ini. Ia mengungkapkan telah berinteraksi dengan beberapa insinyur Facebook untuk membuat kecerdasan buatan ini bekerja sebagaimana mestinya.

Sebelumnya, Zuckerberg memang memasukkan pengembangan kecerdasan buatan ini sebagai resolusinya di tahun ini. Kecerdasan buatan itu nantinya dapat digunakan untuk menjalankan pekerjaan rumah.

Zuckerberg juga berharap kecerdasan buatan ini dapat dipakai untuk mengawasi putri sulungnya, Max. Jadi, kecerdasan buatan itu akan mengabarkan segala sesuatu saat dirinya sedang tak bersama Max.

Ia sendiri memang cukup optimistis suatu saat kecerdasan buatannya dapat menyaingi kemampuan manusia. Bulan April lalu Zuckerberg menyebut dalam 10 tahun sistem komputer dapat lebih baik dari manusia dalam hal kemampuan dasar, seperti melihat, mendengar, termasuk bahasa

Sumber : liputan6.com
.

Minggu, 21 Agustus 2016

Berapa Kecepatan Rata-Rata Internet Mobile Indonesia?


ilustrasi kecepatan download internet. ilustrasi: freepik



Liputan6.com, Jakarta - Penetrasi internet di Indonesia saat ini masih dalam fase pertumbuhan, baik internet mobile maupun broadband.  

Namun, di era mobile saat ini, koneksi internet seluler atau lewat ponsel sangat diandalkan pengguna. Setidaknya di kota-kota besar, pengguna sudah bisa menikmati internetmobile. 

Lalu, berapakah rata-rata kecepatan internet di Indonesia?

Laporan OpenSignal bertajuk Global State of Mobile Networks periode 1 Mei-23 Juli 2016 mencatat, kecepatan internet mobile di Tanah Air berkisar 5,37 Mbps.



Jika diurutkan, Indonesia berada di posisi ke-68, unggul tipis dari India di posisi ke-72 dengan kecepatan 5,30 Mbps.

Perlu diketahui, angka ini merupakan rata-rata berdasarkan kecepatan dan ketersediaan 3G dan 4G di Tanah Air.

Kecepatan internet mobile tertinggi masih diungguli Korea Selatan sebesar 41,34 Mbps, diikuti Singapura 31,19 Mbps, dan Hungaria 26,15 Mbps.

"Untuk negara dengan kecepatan LTE tinggi, tapi rendah cakupan. Total kecepatan rata-ratanya rendah dibandingkan negara yang kecepatan internetnya biasa saja, namun cakupan 4G tinggi," jelas laporan tersebut, Kamis (18/8/2016).

Riset mengungkap bahwa urutan terbawah rata-rata berasal dari negara berkembang di mana pembangunan infrastruktur jaringan belum sebesar negara-negara maju. Misalnya saja, Bangladesh, Etiopia, Vietnam, dan Filipina.

Sekadar informasi, OpenSignal menggunakan lebih dari 12,3 miliar data sampel dan 822.556 sampel pengguna di 95 negara di seluruh dunia
.
Sumber : liputan6.com

Kamis, 18 Agustus 2016

Ikuti Jejak iPhone, Ponsel Xiaomi Makin Merosot

Penjualan ponsel Xiaomi makin merosot – Tidak cuma penjualan Apple yang menurun pada kuartal kedua 2016, sang kembaran dari China pun mengikuti jejak dari Apple tersebu, Xiaomi juga terus ikut merosot dari segi pasar smartphone. Sejak kurtal pertama tahun ini Xiaomi memang sudah keluar dari daftar lima besar vendor ponsel dengan penjualan terbanyak. Posisi yang seharusnya diduduki oleh Xiaomi dan Lenovo kini digantikan oleh Oppo dan Vivo.



Kini performa bisnis Xiaomi kembali terpeleset, penjualan lini ponselnya turun lebih dari 30 persen, sebagaimana dilaporkan oleh AndroidAuthority, KompasTekno, Kamis (18/8/2016).
Sebelumnya pada kuartal kedua 2015 Xiaomi berhasil meraup market share 17,1 persen kini angka tersebut tidak mencapai sepertiganya. Tidak dijelaskan secara rinci berapa market share Xiaomi pada periode ini serta angka yang riil penjualan produknya. Yang jelas Vivo yang menempati posisi kelima sebagai penjualan smartphone terbesar hanya meraup market share 4,8 persen. Xiaomi sendiri tergabung dalam daftar vendor dan lain- lainnya yang urutannya duluar lima besar. Gabungan itu menyumbang market share 45,1 persen.
Fakta ini dibilang ironis sebabnya Xiaomi pernah memimpin industri ponsel di China. Selama beberapa kuartal ternyata kejayaan tidak lagi berpihak kepada Xiaomi. Dulu Xiaomi memulai tren penjualan ponsel lewat online vendor lainnya kemudian mengikuti cara itu dan berhasil menciptakan brand online baru. Analis Senior dari IDC APAC, Xiaohan Tay. Belajar dari kasus Xiaomi Tay mengatakan vendor- vendor yang sekarang baru menanjak perlu waspada. Khalayak modern agaknya cepat sekali beralih kebiasaan dan ketertarikan.
Oppo saat ini menduduki posisi ke empat berkat berbagai strategi pemasaran yang salah satunya menggaet selebriti sebagai brand ambassador. Tak menutup kemungkinan strategi Oppo diimplementasikan dan dimodifikasi vendor lain dengan hasil yang lebih maksimal.
Belum jelas apakah pangsa  pasar Apple dan Xiaomi akan terus merosot dikuartal berikutnya, yang jelas laporan terakhir menyebut lima vendor dengan penjualan besar secara berurutan adalah Samsung, Apple, Huawei, Oppo, dan Vivo.
sumber : https://www.begawei.com/2016/08/ikuti-jejak-iphone-ponsel-xiaomi-makin-merosot.html

Kamis, 11 Agustus 2016

HomeTeknoInternet Cisco Prediksi Kehadiran Ransomware Generasi Terbaru



Liputan6.com, Jakarta - Laporan Tengah Tahun Tren Keamanan Siber 2016 yang dirilis oleh Cisco mengungkap bahwa organisasi-organisasi tidak siap dalam menghadapi serangan ransomware yang makin canggih. Infrastruktur lemah, network hygiene rendah, dan tingkat deteksi lambat, memberikan banyak waktu dan perlindungan bagi lawan untuk beroperasi.

Mengacu pada laporan tersebut, tantangan terbesar adalah upaya untuk mendesak ruang operasional penyerang. Temuan-temuan kunci lain dalam riset ini adalah penyerang yang melebarkan fokus mereka pada serangan server-side, metode serangan yang makin berkembang, dan peningkatan penggunaan enkripsi untuk menutupi aktivitas.

Ransomware, hingga kini, masih menjadi malware paling menguntungkan dalam sejarah. Cisco memprediksi tren ini masih akan berlanjut, bahkan ransomware akan makin merusak dan mampu menyebar dengan sendirinya, menahan seluruh jaringan, serta membuat perusahaan-perusahaan tersandera.

Serangan ransomware masa depan diprediksi akan dapat menghindari deteksi dengan membatasi penggunaan CPU dan menghindar dari aksi command-and-control. Serangan ini akan menyebar lebih cepat dan mereplikasi diri dalam organisasi sebelum menjalankan aktivitas ransom.

Rata-rata diperlukan waktu 200 hari untuk mengidentifikasi ancaman baru. Sementara itu, Cisco terus berusaha menekan waktu deteksi hingga mencapai 13 jam pada akhir April 2016 untuk mendeteksi serangan yang tidak diketahui dalam 6 bulan sebelumnya. Waktu deteksi ini turun dari 17,5 jam pada akhir periode Oktober 2015.

Laporan Cisco juga menunjukkan bahwa tantangan ini bertahan di skala global. Sementara organisasi-organisasi dalam industri kritikal seperti kesehatan mengalami peningkatan serangan secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir, temuan riset ini mengindikasikan seluruh pasar secara vertikal dan global menjadi sasaran. Kebutuhan untuk mengontrol dan mengakses data menjadi terbatas dan bertentangan dengan perdagangan internasional di lanskap ancaman yang makin canggih.

"Dengan semakin banyaknya perusahaan yang mengkapitalisasi model bisnis transformasi digital, keamanan menjadi fondasi utama. Penyerang makin tidak terdeteksi dan memperpanjang waktu operasi mereka," ujar Marty Roesch, Vice President and Chief Architect, Security Business Group, Cisco, dalam keterangannya kepada Tekno Liputan6.com.

Untuk menutup kesempatan penyerang, menurut Marty, pelanggan disarankan meningkatkan visibilitas di jaringan mereka dan meningkatkan aktivitas, seperti patching dan menghentikan pemakaian infrastruktur yang sudah usang, yang tidak memiliki keamanan canggih.

Penyerang Beroperasi Tanpa Batas
Bagi penyerang, lebih banyak waktu untuk mengoperasikan serangan yang tidak terdeteksi berarti menghasilkan profit lebih banyak. Di paruh pertama tahun pertama 2016, Cisco melaporkan profit yang dihasilkan penyerang melonjak tajam karena beberapa faktor di bawah ini.

Fokus yang Meluas
  • Penyerang memperluas fokus mereka dari penyerangan client-side ke server-side, menghindari deteksi dan memaksimalkan potensi kerusakan dan keuntungan.
  • Kerentanan Adobe Flash masih terus menjadi target utama bagi malvertising dan exploit kit.
  • Cisco juga melihat tren baru pada serangan ransomware yang mengekploitasi kerentanan server–secara spesifik pada server JBoss.
Mengembangkan Metode Serangan
  • Selama paruh pertama 2016, penyerang terus mengembangkan metode serangan mereka.
  • Eksploitasi Windows Binary berkembang dan menjadi metode serangan situs web paling populer dalam enam bulan terakhir.
  • Social engineering melalui penipuan di Facebook turun menjadi peringkat dua dari peringkat satu di 2015.
Menutupi Trek
  • Penyerang terus meningkatkan penggunaan enkripsi sebagai metode untuk menutupi berbagai komponen operasi mereka.
  • Terdapat peningkatan penggunaan cryptocurrency, Transport Layer Security dan Tor, yang memungkinkan komunikasi anonim antarweb.
  • Secara signifikan, malware terenskripsi HTTPS yang digunakan dalam serangan malvertising meningkat 300 persen sejak Desember 2015 hingga Maret 2016. 
(Why/Cas)

Sumber : liputan6.com